Salah satu OPT (Organisme Pengganggu Tumbuhan) utama padi adalah tikus. Populasi tikus berkembang cukup cepat dalam rentang waktu tertentu. Sepasang tikus dalam waktu satu tahun dapat berkembang biak sejumlah kurang lebih 2.048 ekor. Bila di hamparan sawah tidak terbentuk ekosistem yang seimbang antara hama dan musuh alami, maka dapat menyebabkan kesusakan pada tanaman budidaya pangan di areal persawahan.
Sedikit saja dijumpai populasi tikus di hamparan sawah, harus diperhatikan. Kemampuan tikus untuk merusak pertanaman dimulai dari sejak di persemaian, fase vegetatif hingga fase generatif. Hingga dapat menyebabkan puso (gagal panen). Oleh karena itu Gerakan Pengendalian OPT Tikus perlu dilaksanakan. Pengendalian tikus dilakukan secara serentak dan terus menerus sejak sebelum tanam hingga tanaman masuk masa generatif.
Saat sebelum tanam, pengendalian tikus dapat dilakukan dengan pengemposan (menggunakan belerang) ataupun penggembongan (menggunakan air) pada liang aktif. Saat persemaian dapat dilakukan pengendalian dengan menggunakan barriers trap (pagar platik mengelilingi persemaian dengan pemasangan perangkap) dan pengumpanan. Memasuki masa vegetatif, pegendalian hama tikus dapat dilakukan dengan beberapa cara antara lain pengemposan, pengumpanan, gropyokan dengan anjing, tembak. Demikian juga saat padi memasuki masa generatif.
Selain hal tersebut d atas, pengendalian hama tikus yang sangat diperlukan adalah pengembalian keseimbangan ekosistem pada lahan. Salah satu cara adalah dengan melestarikan burung hantu (Tito alba, sp). Butung hantu adalah salah satu predator tikus. Pengendalian secara teknis yaitu dengan penerapan jarak tanam dan tanam serempak. Dengan demikian dapat memudahkan dalam pengamatan tanaman dan pengendalian OPT.

Gerakan Pengendalian OPT Tikus telah merata dilakukan di hamparan poktan-poktan di wilayah Kecamatan Mojoagung. Beberapa diantaranya telah melakukan dengan pengumpanan (rodentisida). Poktan-poktan tersebut antara lain Poktan Bandaran (Desa Mancilan), Poktan Tejo Utara (Desa Tejo), Poktan Betek Barat (Desa Betek) dan Poktan Jetis (Desa Mancilan). (Ika Kurnia – PPL kec. Mojoagung)